"Bencana kemanusiaan di banyak tempat karena hukum yang tidak jalan. Seperti di Sampang misalnya. Kita juga tidak enak dengan menggebu-gebu kita mengurus Rohingya. Tapi di negeri sendiri ada yang terjadi di Sampang," ujar ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla di kantor PMI Pusat, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Menurutnya, bagaimanapun pemerintah harus bertindak tegas agar kasus-kasus serupa bernuansa SARA tidak lagi terulang di masa mendatang. Ada dua hal yang harus diperhatikan agar konflik-konflik serupa tidak terulang, yakni terkait perbedaan ideologi di antara sesama warga negara dan penegakan hukum.
"Ini bagaimanapun aparat kemanan harus bertindak tegas, karena kalau tidak, maka terulang-ulang terus. Dua hal agar tidak terulang lagi yang harus diperhatikan. Pertama perbedaan ideologi bukan menyebabkan kita harus saling membunuh. Harus diatasi dengan dakwah. Kedua, siapapun yang berbuat ya harus dihukum," tuturnya.
Pada Senin (27/8), Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, kasus kerusuhan di Sampang yang melibatkan kelompok dari Sunni dan Syiah karena dipicu masalah keluarga. Menag maupun Mendagri juga membantah bahwa bentrokan yang menewaskan 2 orang itu bukan karena masalah pertentangan paham Sunni dengan Syiah atau masalah agama.
Suryadharma menerangkan, keluarga yang mempunyai masalah hingga melibatkan kelompok lebih besar yakni dari keluarga Tajul Muluk (Syiah) dengan keluarga Rois (Sunni). Karena masalah keluarga yang berlarut-larut sejak 2004 lalu, akhirnya berkembang hingga melibatkan kelompok yang jumlahnya lebih besar.
Ia menegaskan, permasalahan tersebut bukan dipicu karena beda aliran antara Sunni dengan Syiah maupun pertentangan agama. Ia meminta kepada masyarakat lainnya, untuk tidak melihat masalah ini pertikaian antara Sunni dengan Syiah.
0 komentar:
Post a Comment